Langsung ke konten utama

Teori Manajemen Privasi Komunikasi

 


Halo sobat komunikasi!! Pernah ga sih kalian ngerasa oversharing sama temen? atau di sosial media? Tentunya jadi ada yang mengganjal di hati dan benak kaliankan? Nah, untuk menghindari oversharing ini, yuk kita kenalan sama teori manajemen privasi komunikasi.
 
Apa sih teori manajemen privasi komunikasi itu?
Sederhananya, teori ini berfokus pada proses dimana kita memisahkan informasi-informasi yang dapat kita bagikan dan tidak dapat kita bagikan pada orang lain, baik kepada individu maupun kepada kelompok. Teori ini sendiri dicetuskan oleh Sandra Petronio pada tahun 1991 silam. 1986, Petronio dengan teman-temannya menimbang sejumlah fenomena komunikasi dengan cara membuat sejumlah aturan dalam menjalin kedekatan suatu hubungan. Tahun 1991, Ia memublikasikan teorinya yang berskala mikro. Hal ini dikarenakan batasan-batasan atau aturan dalam teorinya hanya menyangkut perihal hubungan pernikahan. Teori ini dikenal sebagai teori manajemen batasan komunikasi (Communication Boundaries Theory). Dinilai kurang menjangkau interaksi sosial di masyarakat, Petronio kemudian memperluas lagi cakupan dari teorinya. Tahun 2002, Petronio merilis hasil penyempurnaan dari teori sebelumnya yang bertajuk teori manajemen privasi komunikasi (Communication Privacy Management Theory). Dalam teori ini, batasan yang tadinya hanya dalam lingkup pernikahan, diperluas lagi menjadi batasan pribadi dalam mengungkapkan sesuatu. Teori ini pun akhirnya menjadi sebuah teori makro yang dapat digunakan di setiap interaksi sosial.
 
Asumsi Teori
1.     Manusia adalah pembuat pilihan.
Manusia dikaruniai kebebasan oleh Tuhan. Kebebasan ini membuat manusia dapat menentukan pilihannya masing-masing. Dalam teori ini, pilihannya terdapat dalam kegiatan manusia membangun sebuah relasi. Relasi tersebut juga tentunya memerlukan interaksi yang menimbulkan berbagai pilihan-pilihan lain dalam sosialnya.
2.     Manusia adalah pembuat dan pengikut peraturan.
Kebebasan yang ada membuat manusia menjadi lepas dan ‘liar’. Oleh karena itu, manusia juga membentuk batasan-batasan dalam berinteraksi. Batasan-batasan tersebut juga dipatuhi dan diikuti oleh mereka yang terlibat dalam suatu hubungan.
3.     Pilihan dan peraturan dibuat berdasarkan pertimbangan diri sendiri dan orang lain.
Peraturan yang dibuat oleh manusia biasanya menimbang kondisi geografi dan demografi yang ada di sekitarnya. Dengan demikian, peraturan yang dibuat menjadi relevan untuk dipatuhi kelompok tertentu. Dalam menentukan pilihannya, manusia juga dibatasi oleh kepentingan-kepentingan orang lain. Oleh karena itu pilihan dan aturan selayaknya berjalan seirama dengan harapan dapat menciptakan keharmonisan sosial.
 
Asumsi Dasar Teori
1.     Informasi pribadi
Asumsi dasar yang pertama adalah pengungkapan informasi pribadi. Petronio (2002) berfokus pada konten yang diungkapkan yang memungkinkan kita melenturkan batasan privasi dan keintiman. Ia berpendapat bahwa keintiman adalah keadaan saling mengetahui seseorang secara mendalam. Di sisi lain, pengungkapan informasi pribadi berfokus pada proses kita menceritakan dan mencerminkan isi informasi tentang kita dan orang lain.
2.     Batasan pribadi
Asumsi ini membatasi informasi yang dapat dibagikan pada orang lain. Tapi di sisi lain, terkadang orang membagikan informasi pribadinya pada orang lain. Ketika hal tersebut terjadi, maka batasan pribadi ini sudah menjadi batasan kolektif (collective boundary). Informasi tersebut tak lagi menjadi konsumsi pribadi, namun menjadi konsumsi dalam sebuah hubungan. Namun apabila informasi tersebut masih disimpan untuk diri sendiri, maka hal ini disebut sebagai batasan pribadi.
3.     Kontrol dan kepemilikan
Mereka yang memiliki suatu informasi, tentunya mempunyai kuasa atas hal tersebut. Mereka dapat mengontrol kepada siapa saja informasi dapat dibagikan.
4.     Sistem manajemen berbasis aturan
Kerangka ini dibuat untuk memahami keputusan orang mengenai informasi pribadi. Sistem ini memungkinkan manajemen pada tingkat pribadi ataupun kolektif yang merupakan pengaturan yang kompleks dan terdiri dari 3 tahapan: karakteristik aturan privasi, koordinasi batasan, dan turbulensi batasan.
5.     Dialetika manajemen privasi
Dialektika manajemen privasi ini berfokus pada ketegangan yang terjadi ketika individu ingin mengungkapkan atau tidak mengungkapkan informasi pribadinya. Ketegangan ini dialami oleh individu yang mengalami pertentangan dan kontradiksi atas informasi pribadinya.
 
Proses Manajemen Aturan Privasi
1.     Karakteristik Aturan Privasi
Karakteristik aturan privasi dibagi ke dalam 2 aspek pendukung, yakni pengembangan dan atribut. Pengembangan membantu individu dalam membangun aturan privasi guna memetakan kriteria keputusan pengungkapan atau menyimpan informasi pribadi. Proses pengembangan aturan ini dibantu dengan sejumlah kriteria, seperti gender, budaya, motivasi, dan rasio risiko-manfaat. Aspek berikutnya adalah atribut aturan privasi. Atribut aturan privasi ini menyarankan manusia untuk mempelajari segala aturan melalui sosialisasi atau negosiasi guna membuat aturan yang baru.
2.     Koordinasi Batasan
Koordinasi batasan mengacu kepada bagaimana individu mengelola informasi yang dimiliki. Petronio (2002) menuliskan bahwa individu “mengatur informasi pribadi melalui aturan keterkaitan batas yang moderat, hak kepemilikan batas, dan batas permeabilitas”. Batas hak moderat membentuk kumpulan batas antara individu. Hak kepemilikan batas merujuk pada hak khusus yang dimiliki kepemilikan bersama atas informasi pribadi. Hak ini juga memiliki batasannya sendiri dimana aturannya harus jelas. Ketika keduanya telah terbangun, maka terbentuklah batas permeabilitas. Dimana akses informasi pribadi menjadi tertutup dan mempunyai batasan yang kokoh.
3.     Turbulensi batas
Turbulensi terjadi ketika terjadi ketidakjelasan atau terjadi pertentangan harapan satu sama lain. Aturan yang terbentuk dalam relasi tidak selalu berjalan dengan baik, suatu waktu bentrokan pasti terjadi dan hal itu disebut Petronio sebagai turbulensi batas. Turbulensi yang terjadi ini akan membentuk sebuah aturan baru dari penyesuaian-penyesuaian situasi, sehingga mencapai kesepakatan dan mengurangi bentrokan di masa mendatang (Afifi, 2003).
 
Melalui penjelasan Petronio mengenai teori manajemen privasi komunikasi, sobat komunikasi dapat lebih berhati-hati dalam membagikan informasi dengan orang lain, tentunya dengan batasan yang dibentuk dan diterapkan sesuai dengan keadaan dan situasi kalian ya, sobat! Semoga melalui penjabaran teori ini, sobat komunikasi mendapat ilmu baru yang dapat diterapkan dalam membangun relasi dengan sesama. Pada blog selanjutnya, kita akan membahas tentang aplikasi dari teori ini yang ternyata relevan banget sama kehidupan keseharian kita nih!! Sampai ketemu lagi sobat komunikasi :D
 
Referensi: West, R., Turner, L. H. (2009). Introducing Communication Theory - Analysis and Application. Edisi ke-empat.

Tag: teori komunikasi, manajemen privasi, Sandra Petronio.
 
Disclaimer:
Penulis adalah mahasiswa semester I jurusan Hubungan Masyarakat Program Vokasi Universitas Indonesia.

Komentar

  1. waah insightful banget! thank uu

    BalasHapus
  2. Thankyou sdh berbagai ilmu👍🏻

    BalasHapus
  3. kerenn informatif banget artikelnyaa!

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. SANGAT BERMANFAAT! dan mudah dipahami sekali ^^

    BalasHapus
  6. Asumsi teori nya mirip dengan dialektika dasar relasi yah, ternyata teori komunikasi selalu keterkaitan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Curhat Ada Teorinya?? Masa Sih??

  Ilustrasi privasi. Dok. betanews.com (Liputan 6, 2021) Halo sobat komunikasi! Gimana setelah kemarin membaca unggahan mengenai teori manajemen privasi komunikasi yang dicetuskan oleh Sandra Petronio? Udah makin tahu dong soal privasi dalam berelasi? Atau kalian justru malah makin pusing? Wah gawat sih kalau begitu. Daripada pusing sendiri, mending simak lagi unggahan ini yang akan membicarakan tentang contoh penerapan teori manajemen privasi komunikasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Buat kalian yang mungkin belum baca artikel sebelumnya, teori manajemen privasi komunikasi adalah sebuah teori yang berfokus pada proses dimana kita memisahkan informasi-informasi tertentu yang dapat kita bagikan dan tidak dapat kita bagikan. Sederhana sekali bukan? Namun sayang, banyak orang belum menyadari pentingnya privasi dalam suatu hubungan. Bahkan, privasi juga diperlukan ketika kita sudah menjalin kedekatan yang intim dengan seseorang. Yuk, daripada bingung langsung aja deh kita ke...